Human Right Thinker..
Humanism
Kamis, Februari 16
Minggu, Agustus 30
Yayasan Media Al-ansar

Penjaga Negri [2]

Untuk mendownload video, silahkan pilih salah satu link di bawah ini:
Syaikh Ayman al-Zawahiri Serukan Jihad Di Pakistan

Syaikh Ayman al-Zawahri
DUBAI (Arrahmah.com) – Orang nomor dua dalam tubuh Al Qaidah, Syaikh Ayman al-Zawahiri, pada hari Jumat (28/8) kemarin menyataan bahwa Amerika Serikat telah membunyikan terompet perang salib untuk memecah belah Pakistan. Syaikh al-Zawahiri pun menyeru rakyat Pakistan bergabung dalam jihad untuk melawan penjajah AS yang tidak pernah puas memerangi negeri-negeri Islam, termasuk Pakistan.
Rekaman kedua pernyataan Syaikh Ayman al-Zawahiri selama bulan ini pun muncul setelah pimpinan mujahidin Taliban Pakistan, Baitullah Mehsud, terbunuh dalam serangan misil yang dilakukan oleh AS 5 Agustus lalu.
Selain itu, rekaman pernyataan ini pun muncul setelah angkatan perang boneka Pakistan melakukan penyerangan ofensif akhir April ini terhadap kekuatan mujahidin Taliban di Lembah Swat setelah para mujahidin mengambil alih daerah yang terletak 120 kilometer dari Islamabad tersebut, dengan dalih menangani ketakutan yang semakin meningkat pada stabilitas Pakistan dan menyelamatkan persenjataan nuklirnya.
Syaikh al-Zawahiri menyatakan bahwa angkatan perang Pakistan yang seharusnya melindungi negeri dan rakyat Pakistan malah bertindak sebagai alat utama perang salib Amerika terhadap Islam dan kaum muslimin. Beliau menangkis bahwa aksi militer pemerintah Pakistan yang bertajuk “Jalan Menuju Keselamatan” karena mereka ingin hal tersebut menjadi jalan untuk menyelamatkan Amerika dari kekalahan.
“Justru sebaliknya, dengan petunjuk Allah dan penyerangan dari mujahidin, mereka (Pakistan dan Amerika) tengah menempuh jalan menuju kehancuran.”
Menurut Syaikh al-Zawahiri, peperangan yang terjadi di wilayah perbatasan dan Swat merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari upaya penyerangan para salibis terhadap dunia Islam.
“Mereka ingin menyingkirkan para mujahidin di wilayah tersebut, dengan demikian, mereka akan dengan mudah menekan jihad di Afghanistan. Dan usaha mereka menekan jihad di Afghanistan dilakukan agar tidak ada kekuatan kaum muslimin yang muncul di Asia Tengah yang tentunya akan menghambat kepentingan global para salibis dan yang akan menjadi pelindung bagi kaum muslimin beserta hak-haknya. Singkatnya, ini adalah pertarungan, dan siapa saja yang mendukung dan membantu Amerika dan militer antek Pakistan – dengan dalih, cara, atau kebohongan apapun – sesungguhnya adalah telah berdiri bersama dengan orang-orang kafir yang memerangi Islam dan kaum muslimin.
Dalam pernyataan yang dibacakan dalam durasi 22 menit dan berjudul “Jalan Menuju Kehancuran”, beliau mengulangi komentar yang diungkapkannya pada bulan Juli lalu, yakni menyeru rakyat Pakistan untuk berperang melawan para salibis Amerika dan tentara boneka Pakistan yang tidak pernah berhenti menyerang kaum muslimin, khususnya di negara yang bertetangga dengan Afghanistan tersebut.
“Saudara-saudaraku Pakistan terkasih, tidak akan pernah ada kemuliaan kecuali dengan jihad,” tegas Syaikh al-Zawahiri
“Wahai rakyat Pakistan… berpihaklah pada jihad dan mujahidin dengan jiwa, harta, pendapat, kemampuan, informasi dan doa anda dan dengan menyeru orang lain untuk menolong siapa saja yang menolong agama Allah.”
Dan di akhir pernyataannya, Syaikh Ayman al-Zawahiri mengutip beberapa ayat al Quran yang semakin menguatkan bahwa seruan jihadnya adalah sebuah kebutuhan bagi kaum muslimin di Pakistan khususnya.
Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran [3]: 146-148)
(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. Ali Imran [3]: 172-175)
Jumat, Agustus 28
Mujahiddin
Ringkasan Operasi Militer Mujahidin Afghanistan 27 Agustus 2009

Mujahidin Afghanistan
AFGHANISTAN (Arrahmah.com) - Kamis siang, mujahidin Imarah Islam Afghanistan yang berbasis di Ghazni berhasil menghancurkan tiga tank milik tentara penjajah NATO di beberapa daerah berbeda.
Insiden pertama terjadi di daerah Patak, mujahidin meledakan bom ranjau dengan target konvoy kendaraan militer musuh. Sebuah tank berhasil dihancurkan dalam serangan ini dan empat tentara penjajah di dalamnya tewas seketika.
Insiden kedua terjadi di distrik Khugiani, mujahidin menyerang tentara penjajah NATO dan tentara boneka Afghan yang tengah mengawal petinggi rejim Kabul. Dalam serangan ini, dua tank berhasil dihancurkan dan seluruh tentara teroris yang berada di dalamnya tewas di tempat.
Kamis pagi, mujahidin Imarah Islam Afghanistan di distrik Sarchakan berhasil membunuh salah seorang komandan militan yang mendukung pemerintah, Khudiadad. Peristiwa ini terjadi di Dara Jouz, dalam serangan tiga ajudan komandan munafik tersebut juga ikut terbunuh. Mujahidin merampas tujuh set AK-47 dalam setelah pertempuran berakhir dan dimenangkan oleh mujahidin. Pertempuran berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam. (haninmazaya/arrahmah.com)
Arrahmahmedia
“Aku Baru Berumur 12 Tahun Saat Dikirim ke Guantanamo”

Mohammad Jawad
Mohammad Jawad masih terus berjuang menata kembali hidupnya, hilangnya masa kanak-kanak dan remaja setelah selama tujuh tahun berada di Guantanamo, tempat yang terkenal paling “biadab” sedunia.
“Aku tidak melakukan apapun, mereka menangkapku tanpa alasan jelas,” ujar pemuda Afghan yang baru keluar dari Guantanamo beberapa waktu lalu.
Jawad ditangkap pada 2002 silam ketika ia berumur 12 tahun dengan tuduhan telah melemparkan granat ke arah konvoy tentara penjajah AS di Afghanistan.
“Mereka tahu aku masih dibawah umur, namun mereka tidak mempedulikan umurku.”
Pemuda ini pertama kali dikirimkan ke bandara Kabul sebelum akhirnya diterbangkan ke Guantanamo, dimana siksaan berat untuk dirinya dimulai.
“Terdapat banyak tekanan, aniaya yang dilakukan selama aku berada di Guantanamo,” ujar Jawad.
“Aku disiksa sepanjang waktu sampai aku dibebaskan.”
Ia menceritakan, dia harus melilitkan tangannya ke belakang tubuhnya, lalu para penjaga mengikat tangannya, matanya pun ditutup dan ia dipaksa makan dalam keadaan demikian.
“Mereka menghina agama dan Al-Qur’an kami, mereka menghina ummat Muslim dengan cara-cara tak berperikemanusiaan,” lanjutnya.
“Dan hal ini tidak hanya berlangsung satu hari, satu minggu atau satu bulan, tetapi terus-menerus.”
Setelah tujuh tahun berada di Guantanamo, kini Jawad telah kembali ke Afghanistan.
“Selama berada di sana, aku hanya bisa berdoa semoga suatu hari aku dapat kembali ke Afghanistan dan menemui ibuku,” ujarnya mengingat.
Jawad ditangkap saat ia berumur 12 tahun, ia hidup dengan ibunya, ayahnya telah syahid (Insha Allah) dalam peperangan melawan Soviet.
Ibunya tidak dapat mempercayai bahwa anaknya bisa kembali pulang.
Kerabat Jawad tidak ada yang mengetahui keberadaan Jawad hingga akhirnya ia kembali pulang.
“Kami mencarinya selama sembilan bulan penuh,” ujar Sher Khan Jalalkhil, teman dekat ayah Jawad.
“Kami sama sekali tidak tahu apakah ia masih hidup atau terbunuh, ditangkap atau hilang. Ibunya hampir gila.”
Ibunya mengetahui anaknya berada di Guantanamo setelah ia berbicara dengan salah satu anggota Palang Merah Internasional.
Setelah mengetahui itu, kekhawatirannya semakin menjadi-jadi, karena ia tahu bagaimana keadaan Guantanamo, apa yang dilakukan para penjaga terhadap tahanan di sana, dari pemberitaan dimedia.
“Aku belum memiliki rencana apapun,” ujar Jawad saat ditanya mengenai kelanjutan hidupnya. (haninmazaya/IOL/arrahmah.com)
